Selasa, 05 Februari 2013

Journey for a life time Part 3



   Pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik, 
So Be Smart :)


Pengalaman ini terjadi sewaktu aku menjadi mahasiswa baru pada awal September 2005. Lokasi kuliah yang kurang lebih 40km dari kampung halamanku menjadikan diriku anak kost yang jauh dari orang tua. Ini pengalaman pertamaku untuk hidup mandiri dan ku merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar kampus dan dengan teman-teman baru. Aku mencoba untuk mengikuti life style teman-teman jurusanku yang lebih baik hang-out mencari tempat nongkrong, bermain bilyard, pergi ke mall dan bermain game dari pada mengikuti mata kuliah yang membuat pusing tidak keruan. Akupun tertarik dalam bermain game, karena di kampung kurang mengenal game Online, dan hal ini membuat asing bagiku dan igin mencoba. Aku pun mendapatkan teman, teman dalam sepermainan game. Pengalaman pertama bermain game sungguh mengasyikan. Jika dosen tidak hadir akupun langsung bermain game, hingga lupa ada jam kuliah berikutnya, sehingga akhirnya aku harus cut class atau dalam dunia perkuliahan sering dikatakan “titip absent”. Kami selalu bermain game di lab. computer khusus jurusan yang lokasinya tidak jauh dengan kelas dimana kami belajar-mengajar. Hari demi hari semakin aku kecanduan dengan game hingga teman-teman satu kelas memanggil kami gamer, orang yang sangat pecandu dengan game. Karena jenis game yang kami mainkan terus berinovasi membuat kami semakin penasaran lagi, lagi dan lagi, nama game yang kami mainkan bermula dari empire dan beralih ke game baru Warcraft. Karena game baru kita pernah bermain game sepanjang hari, start pukul 08.00 pagi di lab.komputer jurusan hingga tutup lab. jam 15.00 sore, sampai lupa makan siang kemudian lanjut lagi menuju Puskom (pusat komputer) yang ada di Universitas hingga pukul 18.00 sore karena penjaga lab. akan istirahat dan buka lagi jam 19.00, maka kami rela menuggu di kampus dan tidak pulang, setelah dibuka lagi kami pun melanjutkan kegilaan kami bermain game hingga jam tutup lab. jam 23.00 malam, tidak cukup sampai di situ kami langsung beranjak ke warnet untuk mengambil paket malam jam 12 malam sampai jam 06.00 pagi. Hal ini hampir seminggu 3 kali saya lakukan bersama teman-teman gamer lainya sampai semester 1 berakhir, sehingga selama 6 bulan dalam perkuliahan yang saya dapatkan hanya bermain game dan game. Nilai kartu hasil study yang sangat menyedihkan IP semester pertama mendapatkan  2,0 membuat ku harus bergelut dengan adik tingkat.

Aku mulai intropeksi diri bahwa kecanduan game sangat menyiksa, dan aku ingin keluar dari zona ini akan tetapi sangat sulit, hingga akhirnya kakak senior yang juga teman kosan  memberikan nasehat, dorongan, dan motivasi serta mengajak’ku untuk bergabung dalam kegiatan organisasi yang menjadikan diriku memiliki aktivitas. Hari berganti hari’ku sangat aktif dalam organisasi selalu mengikuti setiap kegiatan dan banyak hal positif yang kudapatkan, kartu hasil studiku pun berangsur membaik serta teman organisasi men-support untuk berubah. Dan akhirnya aku bisa melaluinya walaupun ada resiko yang dibayar, teman-temanku dalam bermain game pun satu persatu menjauh dan mengucilkan’ku.


Akan tetapi, aku mengerti sekarang bahwa dengan siapa aku bergaul, akan membentuk karakter tempat dimana aku bergaul. Sehingga aku mempunyai komunitas yang baru dan membentuk karakter positif dalam hidupku.   This my real story!!

Senin, 04 Februari 2013

Journey for a life time Part 2




Do Something New with a Great Effect”

Sewaktu saya masa kuliah aktif pada organisasi LPMI ( Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia ) suatu organisasi extra kampus yang bergerak dalam bidang kerohanian kristen. Saya bergabung pada 16 Maret 2006 menginjak semester 2. Setiap satu tahun sekali Lpmi mengadakan kegiatan penyambutan mahasiwa baru dan mengundang seluruh mahasiswa/i baru kristen yang ada di Bandarlampung, dengan konsep memperkenalkan organisasi Lpmi kepada mahasiswa baru dan bertujuan untuk merekrut mahasiswa baru agar bergabung. Selama 3 tahun terakhir saya bergabung di Lpmi selalu mengadakan konsep yang sama.
Akan tetapi, pada tahun 2009 kegiatan penyambutan mahasiswa baru, kami mencoba membuat terobosan baru. Jika biasanya para staf Lpmi selalu ikut ambil bagian dalam acara, kali ini saya dan kedua teman saya yaitu boni dan ocha dipercayakan untuk meng-handle acara ini, karena kami bertiga adalah perwakilan dari Lampung yang diutus untuk mengikuti Student Congress  se-Asia Tenggara di Kuala Lumpur pada tanggal 12 Mei 2009, acara ini bertujuan untuk membangun gerakan di kampus masing-masing. Maka dari itu, para staf mempercayakan kami segala konsep acara yang akan dilakukan. Apa yang kami dapatkan pada waktu congress kami mencoba terapkan, setelah berpikir mati-matian kami mendapat ide untuk menjangkau para pemimpin organisasi UKMK (Unit Kegiatan Mahasiswa  Kristen) setiap kampus dengan mengumpulkan setiap pemimpin kampus dan sharing visi, jika biasanya setiap kampus membawa bendera masing-masing untuk mengadakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru, kami mencoba menawarkan sebuah visi untuk bersatu, menjadikan acara penyambutan mahasiswa baru menjadi satu kesatuan yang diikuti setiap kampus tanpa membawa bendera siapa. Hal ini  pun disepakati oleh para pemimpin setiap organisasi kampus yang diikuti sekitar 5 kampus yang ada di Bandarlampung untuk mau bergabung menjadi satu acara dan mengkonsepnya semaksimal mungkin dan dengan kepanitian dari berbagai kampus.
Acara ini acara yang pertama dilakukan dimana para pemimpin organisasi kristen setiap kampus bersatu membentuk konsep yang sedemikian rupa agar mahasiswa baru tertarik dan ikut bergabung pada organisasi kristen masing-masing kampusnya dan ini adalah pengalaman saya merintis suatu kegiatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Kegiatan ini berdampak merubah pola pikir setiap pemimpin setiap kampus bahwa dengan bersatu banyak energi positif yang didapatkan, kemudian lebih efisien dan efektif dana yang digunakan bisa menghemat dan acara yang di hasilkan sesuai harapan, serta setiap mahasiswa baru beranggapan bahwa mereka memiliki banyak teman seiman di luar kampus, yang biasanya hanya memiliki teman seiman hanya di kampusnya masing-masing.
Dengan adanya acara ini kita semakin memperluas pikiran masing-masing individu dan saling sharing membantu kekurangan masing-masing organisasi. Kemudian dari pada itu Lpmi sebagai organisasi extra kampus berfungsi sebagai fasilitator bagi organisasi kristen yang ada di setiap kampus untuk sebagai tempat diskusi untuk membangun gerakan dan ide-ide yang positif mempersiapkan mahasiswa hari ini sebagai pemimpin hari esok.

Minggu, 03 Februari 2013

Journey for a life time Part 1




Melakukan hal kecil 'tuk membuat orang lain tersenyum dan paling berkesan dalam hidupku

Tindakan yang paling berkesan bagi saya dan memberi manfaat bagi saya tidak lain waktu bakti sosial saya dan teman-teman organisasi memberikan 100 nasi kotak kepada anak jalanan, tuna wisma, tukang parkir, pemulung, pengemis dan kepada siapapun yang saya temui dan layak menerima dengan target area di Jl. Raden Intan dan sekitaran kota Bandar Lampung pada tanggal 18 Februari 2010.
Mengapa saya melakukan hal ini karena saya tergerak oleh belas kasihan dan ingin berbagi apa yang saya miliki kepada orang lain, selain itu saya tergabung dalam organisasi yaitu Alter-Singer dan kami memiliki visi “be blessed to bless”(di berkati untuk menjadi berkat). Cerita singkat tentang Alter-Singer merupakan suatu wadah organisasi vocal grup untuk mengembangkan talenta yang kita miliki dalam hal olah vokal atau bernyanyi khususnya lagu rohani, selain itu yang menarik dalam organisasi ini kita tidak hanya bernyanyi dan tampil di sebuah acara yang megah, akan tetapi di sini aku mengerti di saat aku memiliki talenta bahwa aku harus berbagi dengan orang lain, dengan kata lain di saat kita dapat menyanyikan sebuah lagu dengan harmoni dan telah latihan yang rutin kita lakukan 2 kali dalam seminggu, kemudian kita bernyanyi ke rumah sakit yang ada di Bandar lampung untuk menghibur para pasien, kemudian ngamen buat usaha dana untuk kegiatan bakti sosial yang nantinya akan kita lakukan, serta bernyanyi di gereja-gereja kecil yang ada di pedesaan, mengapa fokus kami di pedesaan karena daerah pedesaan terkadang kurang di perhatikan dan kami mencoba untuk memberi persembahan pujian yang memberikan semangat khususnya pada orang desa, di samping itu terkadang kami juga di undang menjadi wedding singer pada acara pernikahan. Akan tetapi semua kegiatan di atas yang paling berkesan di saat saya punya ide untuk bakti sosial memberikan nasi kotak kepada anak jalanan, tuna wisma dan mereka yang kekurangan di jalanan, dan kegiatan ini yang pertama di lakukan semenjak Alter-Singer berdiri sejak 2004.
Berbagi dengan sesama dan menjadi dampak hal ini adalah message dari Pembina kami seseorang yang  misterius, military, unpredictable, calm, menegangkan , tapi setelah bersama-sama dengan beliau kurang lebih dua tahun, in the fact sungguh diluar perkiraan “totally different”. Finally, kami memiliki kerinduan yang sama tuk melakukan bakti sosial, akan tetapi dalam bentuk apa kita belum tahu dan saya sebagai ketua waktu itu mencoba menawarkan sebuah idea bagaimana kalau kita berbagi nasi kotak kepada anak jalanan dan teman-teman pun serentak setuju dan kami pun mencoba untuk menindak lanjuti bagaimana konsepnya dan apa yang yang harus kami lakukan. Dan waktu itu saya dan teman-teman masih duduk di bangku kuliah, walaupun banyaknya kesibukan kuliah kami, akan tetapi kami masih memiliki waktu untuk mencoba berbagi pada saudara-saudara kami yang kekurangan di jalanan.
Konsep yang kami lakukan waktu itu kami menargetkan 100 nasi kotak dengan target area di pusat kota Bandarlampung Jalan Raden Intan dan pasar tradisional bambu kuning. Bakti sosial ini kita rencanakan kurang lebih 3 bulan, dan dana yang kami peroleh untuk mempersiapkan nasi kotak ini tidak kami dapatkan dari donatur dengan mengajukan proposal, akan tetapi kami dapatkan dengan usaha mandiri dari mengamen di restoran jalan lintas sumatera yang cukup ramai pengunjung dan berjualan soup ayam moi dan menjualnya di perkampungan mahasiswa univesitas lampung. Seluruh dana yang terkumpul pun Puji Tuhan tercukupi kita pun memasak sendiri makanan yang akan kami berikan nantinya kepada anak jalanan dan mengepaknya menjadi nasi kotak ‘tuk dibagikan nantinya kepada yang membutuhkan. Dan yang membuat saya pribadi terharu dan tertegun merasa kasihan saat ada seorang lelaki tua yang cacat dan bisu dia berada di pinggir jalan menunggu orang berbelas kasihan kepadanya, dan saya tidak bisa bayangkan jika sepanjang hari tidak ada yang memberi, berarti dia tidak makan, dan saya pun menghampirinya dan memberikan nasi kotak kepadanya. Pengalaman ini menginsipirasi hidup saya untuk peka terhadap sekitar dan berbagi apa yang kita miliki,dalam hal sekecil apapun itu.
Tuhan mempercayakan setiap talenta pada anak-anakNya, and now my Job’s to create something new more and more.